Teknik Lingkungan & AMDAL.
Materi tentang pencemaran
industri paska panen KERTAS.
Topik :
Produksi dan pengolahan kertas, serta penanganan limbah kertas yang
bertujuan menambah nilai-nilai ekonomi dan mengurangi dampak negatif maupun
pengaruh pada lingkungan.
Aturan :
Pulp dan kertas tercantum atau sebagaimana disebutkan dalam lampiran Av dan lampiran Bv
Pulp dan kertas tercantum atau sebagaimana disebutkan dalam lampiran Av dan lampiran Bv
LAMPIRAN A.V
KEPUTUSAN
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR :
KEP-51/MENLH/10/1995
TENTANG
BAKU MUTU LIMBAH CAIR
BAGI KEGIATAN INDUSTRI
TANGGAL 23 OKTOBER
1995
PARAMETER
|
PABRIK PULP
|
PABRIK KERTAS
|
PABRIK PULP DAN
KERTAS
|
|||
KADAR
MAKSIMUM (mg/L) |
BEBAN
PENCEMARAN MAKSIMUM (kg/ton) |
KADAR
MAKSIMUM (mg/L) |
BEBAN
PENCEMARAN MAKSIMUM (kg/ton) |
KADAR
MAKSIMUM (mg/L) |
BEBAN
PENCEMARAN MAKSIMUM (kg/ton) |
|
BOD3
|
150
|
15
|
125
|
10
|
150
|
25,5
|
COD
|
350
|
35
|
250
|
20
|
350
|
59,5
|
TSS
|
200
|
20
|
125
|
10
|
150
|
25,5
|
pH
|
6,0 - 9,0
|
6,0 - 9,0
|
6,0 - 9,0
|
|||
Debit Limbah Maksimum
|
100 m3 per ton pulp kering
|
80 m3 per ton produk
kertas kering |
170 m3 per ton produk
kertas kering |
|||
Catatan :
a. Kadar maksimum untuk setiap
parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram parameter per liter
air limbah.
b. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter
pada tabel di atas dinyatakan dalam kg atau gram parameter per ton produk
soda kostik.
(ref : http://www.cets-uii.org/BML/Air/BMLC/kepmen5195/lampiran_A5.html
BOD (Biological Oxygen Demand)
Adalah suatu karakteristik
yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya
bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi
aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi
oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah
bahan organik yang siap terdekomposisi ( readily decomposable
organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah
oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam
perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
Dari pengertian-pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD
menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan
sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics)
yang ada di perairan.
COD (Chemical Oxygen Demand)
Adalah jumlah
oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang
terkandung dalam air (Boyd, 1990). Hal ini karena bahan or ganik yang ada
sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium
bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat
(Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan
organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan
teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD dan BOD memberikan
gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Bisa
saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari
COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.
TSS (Total Suspended
Solids)
Adalah residu
dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal
2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. Yang termasuk TSS adalah
lumpur, tanah liat, logam oksida, sulfida, ganggang, bakteri dan jamur. TSS
umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan. TSS memberikan kontribusi untuk kekeruhan (turbidity) dengan
membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintesis dan visibilitas di perairan.
Sehingga nilai kekeruhan tidak dapat dikonversi ke nilai TSS. Kekeruhan adalah
kecenderungan ukuran sampel untuk menyebarkan cahaya. Sementara hamburan
diproduksi oleh adanya partikel tersuspensi dalam sampel. Kekeruhan adalah
murni sebuah sifat optik. Pola dan intensitas sebaran akan berbeda akibat
perubahan dengan ukuran dan bentuk partikel serta materi.
pH
Adalah derajat keasaman yang digunakan untuk
menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion
hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental,
sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala
absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya
ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
LAMPIRAN B.V
KEPUTUSAN
MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR : KEP-51/MENLH/10/1995
TENTANG
BAKU MUTU LIMBAH CAIR
BAGI KEGIATAN INDUSTRI
TANGGAL 23 OKTOBER
1995
PROSES/
PRDOUK |
PARAMETER
|
||||||
DEBIT
(m3/ton)
|
BOD5
|
COD
|
TSS
|
||||
Kadar
Maksimum (mg/ton) |
Beban
Pencemaran Maksimum (kg/ton) |
Kadar
Maksimum (mg/ton) |
Beban
Pencemaran Maksimum (kg/ton) |
Kadar
Maksimum (mg/ton) |
Beban
Pencemaran Maksimum (kg/ton) |
||
A. PULP
|
|||||||
Kraft dikelantang
|
85
|
100
|
8,5
|
350
|
29,75
|
100
|
8,5
|
Pulp larut
|
95
|
100
|
9,5
|
300
|
28,5
|
100
|
8,5
|
Kraft yang tidak
dikelantang |
50
|
75
|
3,75
|
200
|
10,0
|
60
|
3,0
|
Mekanik (CMP dan
Grounwood) |
60
|
50
|
3,0
|
120
|
7,2
|
75
|
4,5
|
Semi kimia
|
70
|
100
|
7,0
|
200
|
14,0
|
100
|
7,0
|
Pulp soda
|
80
|
100
|
8,0
|
300
|
24,0
|
100
|
8,0
|
De-ink pulp (dari
kertas bekas) |
60
|
100
|
6,0
|
300
|
18,0
|
100
|
6,0
|
B. KERTAS
|
|||||||
Halus
|
50
|
100
|
5,0
|
200
|
10,0
|
100
|
5,0
|
Kasar
|
40
|
90
|
3,6
|
175
|
7,0
|
80
|
3,2
|
Sparet
|
175
|
60
|
10,5
|
100
|
17,5
|
45
|
7,8
|
Kertas yang
dikelantang |
35
|
75
|
2,6
|
160
|
5,6
|
80
|
2,8
|
pH
|
6,0 - 9,0
|
||||||
Catatan :
Penjelasan kategori proses di
atas diberikan sebagai berikut :
A. Pulp
Pulp adalah
hasil pemisahan serat dari bahan baku bererat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses
pembuatannya ( mekanis, semikimia, kimia). Pulp terdiri dari serat - serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas.
B. Kertas
Cara penangan yang sudah ada :
PENGARUH
LIMBAH PADAT PABRIK KERTAS TERHADAP HASIL TANAMAN BAWANG MERAH
Peranan limbah Padat pabrik kertas sebagai
Sumber bahan Organik :
Limbah
padat pabrik kertas mengandung unsur kalium (K). peranan unsur ini untuk
memperlancar fotosintesis, memacu pertumbuhan tanaman pada titik awal,
memperkuat batang dan menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan
penyakit serta kekeringan (Suriatna, 1994).
Limbah
padat pabrik kertas juga mengandung unsur-unsur antara lain : kalsium,
magnesium, besi, dan sulfida yang juga berguna bagi pertumbuhan tanaman.
Limbah
padat pabrik kertas terdiri dari :
a.
Sludge
Sludge
adalah suatu bahan yang terdiri atas padatan 90% dan air 10%. Sludge didapat
dari proses pengendapan pada efflument treatment plant, mengandung bahan
organik yang berasal dari bahan baku pulb.
b.
Biosludge
Biosludge
adalah hasil samping dari efflument treatment yakni dari proses biological
aeration, tersusun dari bahan baku pulb, selain mengandung mikroorganisme
sebagai efek dari biological aeration.
c. Pith
Pith
adalah bahan dari proses depething plant yaitu proses pemisahan secara mekanik
bahan baku pulb yaitu antar bahan serat dan bahan bukan serat (Hammer, 1977).
Pelaksanaan Percobaan
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan
Rancangan Lingkungan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial
dengan 3 ulangan. Faktor-faktornya :
I. Macam limbah organik, terdiri 3 taraf, yaitu
:
L1 = limbah padat Sludge
L2 = limbah padat Biosludge
L3 = limbah padat Pith
II. Dosis Limbah organik, terdiri 4 taraf,
yaitu :
D0 = Kontrol
D1 = Dosis 10 ton per hektar
D2 = Dosis 20 ton per hektar
D3 = Dosis 30 ton per hektar
Keterangan :
NS = Tidak berbeda nyata
* = Berbeda nyata
** = Berbeda sangat nyata
L = Macam Limbah Organik
D = dosis Limbah Organik
L X D = Interaksi L dengan D
Tabel 2. Uji Jarak Berganda Duncan pengaruh
Macam, Dosis Limbah Padat Pabrik Kertas dan Interaksi Kedua Perlakuan Terhadap
Komponen Hasil
|
Keterangan
: Angka-angka dalam satu kotak pada kolom yang sama dan diikuti huruf kecil
yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Kesimpulan
1. Perlakuan
macam limbah padat pabrik kertas berpengaruh nyata terhadap semua komponen
hasil : jumlah umbi, berat segar umbi dan berat kering umbi.
2. Perlakuan
dosis limbah padat pabrik kertas berpengaruh nyata terhadap semua komponen
hasil tanaman bawang merah.
3. Ada
interaksi dari kedua perlakuan pada semua parameter hasil tanaman bawang merah.
4. Berat
umbi kering konsumsi tertinggi dicapai pada interaksi antara limbah sludge
dengan dosis 20 ton/ha sebesar 26,67 gram dan terendah limbah pith dengan dosis
10 ton/ha sebesar 6,67 gram.
Gambaran dasar yang dipikirkan :
Perbandingan laju penanaman
pohon dan konsumsinya yang tidak sebanding di Indonesia, semakin memperkuat akan pentingnya daur ulang limbah kertas. Idealnya, laju
pertumbuhan hutan harus lebih besar dari laju konsumsinya. Berbeda
dengan di Indonesia, di Amerika Serikat
55% dari jumlah konsumsi kertas secara nasional dapat di daur ulang dan
digunakan kembali sebagai bahan baku kertas. Bahkan di sana, setiap 3 pohon
yang dikonsumsi, 5 pohon baru tumbuh sebagai penggantinya. Maka, tidaklah
mengherankan jika selama kurun waktu 50 tahun terakhir, populasi hutan di Amerika Serikat meningkat sampai 40%.
(ref : paperrecycles.org)
Fakta - fakta jumlah konsumsi kertas di
Indonesia :
- Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton.
- Dalam sebuah program Cleaning Day yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul sampah kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jumlah sampah yang dihasilkan 30-40% merupakan sampah kertas.
- Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita tahun atau sekitar 220 ribu ton (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), 2003). Dengan itu, maka Indonesia membutuhkan pembangunan satu pabrik kertas baru setiap tahunnya menyusul lahapnya konsumsi kertas dalam negeri (Kapanlagi.com, 2008).
- Kapasitas produksi kertas lainnya adalah kertas koran 750 ribu ton, kertas sackracft 0,4 juta ton, kertas bungkus 92 ribu ton, kertas sigaret 64 ribu ton, kertas tisu 312 ribu ton, dan kertas berharga 13,5 ribu ton.
- Data Rainforest Information Center menyebutkan sebanyak 10-17 pohon harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekira 7.000 eksemplar koran.
- Masih menurut Indonesian Pulp and Paper Association, 90% konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004).
- Laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 1985-1998 tidak kurang dari 1,6 juta hektar per tahun (Dephutbun, 2000).
Salah satu cara atau penanganan dalam mengurangi limbah produksi kertas maupun
limbah-limbah kertas dari lingkungan masyarakat yaitu dengan cara mendaur ulang
kertas tersebut menjadi bahan yang lebih bermanfat (kreatif dan inovatif) atau bisa
juga dijadikan sebagai penambah penghasilan ekonomi. Khususnya limbah dari
lingkungan masyarakat, bukan hal yang biasa jika melihat sampah-sampah kertas
yang sudah tak terpakai menumpuk didalam rumah maupun diluar lingkungan rumah. Yaitu
sebagai contoh pemanfaatan limbah kertas yang bertujuan untuk menambah nilai
ekonomi, kertas daur ulang (recycle) saat ini bukan menjadi produk yang
asing lagi. Beragam produk kerajinan dan souvenir yang menggunakan kertas daur
ulang sebagai bahan baku utamanya banyak ditemukan di berbagai tempat. Selain
bertujuan sebagai penambah nilai ekonomi yaitu nilai positifnya adalah
terciptanya lapangan pekerjaan dengan produksi kelas kecil maupun kelas menengah.
Proses pembuatan kertas daur ulang
tidaklah sulit, hanya diperlukan alat seperti blender, screen berkasa dan tanpa kasa, ember,
alat penyaring, busa, dan kain bekas. Adapun bahan-bahan yang digunakan antara
lain kertas atau koran bekas, pewarna, serat alam (eceng gondok, pandan, pelepah pisang), dan pengharum.
Untuk proses pembuatannya sebagai berikut :
1. Kertas bekas disobek atau dipotong-potong
kecil
2. Kemudian direndam dalam air beberapa saat
lalu diremas-remas sampai setengah hancur
3. Kemudian kertas tersebut dihancurkan kembali
dengan penambahan air menggunakan blender . perbandingan antara kertas dan air
1:1
4. Masukkan bubur kertas ke dalam ember yang
telah diisi air bersih (tiap 250 gr bubur kertas membutuhkan 5 liter air
bersih). Kebutuhan air bisa disesuaikan, tergantung dari ketebalan kertas yang
diinginkan.
5. Campuran bubur tersebut dicampur menggunakan
lem kanji untuk menghasilkan kertas yang tidak mudah sobek (setiap 250 gr bubur
kertas dicampur 10-15 gr lem kanji).
6. Penambahan warna dapat dilakukan untuk
menghasilkan kertas berwarna. Untuk kertas daur ulang yang bermotif bisa
dilakukan dengan menambahkan serat alami. Untuk menambah keharuman kertas, maka
dapat ditambahkan pengharum.
7. Setelah adonan selesai disiapkan, masukkan
semua screen ke dalam adonan. Angkat screen dan biarkan air menetes. Setelah
air menetes beberapa waktu, lepaslah screen tanpa kasa dan letakkan diatas
papan/meja. Hilangkan air pada kasa dengan busa.
8. Setelah screen tidak lagi mengandung air,
screen kemudian diangkat. Sediakan alas kain untuk meletakkan adonan kertas
yang telah pipih.
9. Jemur kertas dibawah sinar matahari kemudian
segera disetrika hingga kering dan permukaannya halus.

